Sontongunun Gembrotun Bakhrotun

 Sontongunun Gembrotun Bakhrotun

Nama: Hafidz bin Abdul Malik
Julukan: Sang Penguasa Laut Dalam
Usia: 27 tahun



Asal: Pelabuhan Tua Al-Qadim
Elemen: Lemak dan Gentong
Kemampuan Utama: “Abyssal Surge” — gelombang hitam yang menyerap cahaya dan menenggelamkan musuh ke dalam kegelapan laut.


🧠 Deskripsi Karakter

Hafidz bin Abdul Malik dulunya dikenal sebagai pelindung Baker, tapi tragedi besar mengubah hatinya. Setelah kehilangan keluarganya karena keserakahan manusia dan kekuasaan penguasa darat, Hafidz bersumpah untuk menghapus dunia atas dari peta — membiarkan laut menelan segalanya.

Tubuhnya Gembrot dan berlemak, tapi bukan tanda kelemahan — melainkan kekuatan yang menyimpan tenaga luar biasa. Kulitnya gelap berkilau seperti batu obsidian, dan rambut tentakel keemasannya bergerak sendiri seolah hidup. Tatapannya dalam dan dingin, seperti pusaran laut yang siap menelan siapa pun yang berani menantang.


⚔️ Kepribadian

Tenang, dingin, dan penuh perhitungan. Hafidz tidak tertarik pada kekuasaan untuk dirinya sendiri — ia ingin menciptakan dunia baru yang “lebih bersih,” bebas dari keserakahan manusia. Dalam pikirannya, kehancuran adalah bentuk keadilan.

Ia berbicara lembut, tapi setiap katanya membawa ancaman tersembunyi. Musuh-musuhnya sering menganggapnya lamban, namun ketika ia bertindak… tak ada yang sempat bernafas sebelum ombak menelan mereka.


🌊 Fakta Unik

  • Mengenakan kalung dari gigi makhluk laut raksasa yang ia kalahkan sendiri.

  • Kaos hitam yang dikenakannya kini tergores tanda gelombang — simbol sumpahnya pada laut.

  • Bisa memanggil “Pentol Borakss”, entitas laut purba yang tunduk padanya.



Asal Mula Kegelapan: Hafidz bin Abdul Malik

Angin laut malam itu berhembus dingin di Pelabuhan Al-Qadim. Langit memerah, bukan karena senja, tapi karena kobaran api. Kapal-kapal nelayan terbakar, dan jeritan manusia menyatu dengan deru ombak. Di antara reruntuhan dermaga, berdiri seorang pria berkulit gelap, tubuhnya kokoh, matanya kosong menatap lautan—Hafidz bin Abdul Malik.

Dulu, Hafidz adalah pelindung pelabuhan. Ia mengajarkan anak-anak membaca arah angin, menolong nelayan menyeberangi badai, dan menjaga pantai dari perompak. Namun malam itu, semuanya direnggut. Para bangsawan dari daratan datang menjarah laut—mengambil hasil tangkapan, membakar kapal, dan membunuh siapa pun yang melawan. Termasuk keluarganya.

Ketika ia berlari menyelamatkan mereka, hanya ombak yang menjawab. Ia menjerit pada langit, tapi yang mendengar hanyalah suara dari kedalaman—bisikan dari sesuatu yang gelap, purba, dan penuh amarah.

“Laut tak pernah benar-benar mati, Hafidz. Kami bisa memberimu kekuatan… jika kau mau menenggelamkan dunia yang melupakannya.”

Dan malam itu, Hafidz menatap laut, lalu berjalan masuk ke dalamnya. Tidak ada yang melihatnya lagi. Beberapa hari kemudian, badai hitam datang dari arah laut, menelan pelabuhan Al-Qadim hingga lenyap dari peta.

Bertahun-tahun setelahnya, para pelaut yang berlayar terlalu jauh bersumpah melihat sosok pria bertubuh besar berdiri di atas ombak, mengenakan kaos hitam berlumur garam laut. Rambutnya berayun seperti tentakel, matanya menyala biru di antara kabut.

Ia bukan lagi pelindung. Ia kini Hafidz bin Abdul Malik — Penguasa Laut Dalam,
yang menuntut dunia membayar hutang pada laut yang pernah mereka sakiti.

“Laut memaafkan… tapi aku tidak.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tutorial Papak Sut😱😱

Cara Bercocok Tanam Rill 100% No Root